Senin, 04 Maret 2019

Dia Kunamai Aruzumaki-kun

Kalau dulu, pikiranku selalu bermuara pada sosok yg kupanggil Cepot. Setahun belakangan ini, banyak hal yg telah terjadi dan Cepot bukan lagi yg berarti. Kekekek
Akhirnya aku menyadari bahwa menyukainya hanyalah kesia-siaan yang sengaja kuperlama. Rasanya aku menyesal telah berbuat hal memalukan selama suka padanya. Mau ditaruh dimana wajah pas-pasanku ini.

Seperti yang sudah kuberitai, setahun ke belakang hatiku berpaling (?) pada sosok yang awalnya tak pernah kupertimbangkan. Perasaan itu tiba-tiba mengejutkanku yang dulu begitu percaya diri tidak akan jatuh cinta lagi. Haha. Sosok itu adalah teman kuliahku. Awalnya tidak ada yang menarik darinya. Aku tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Ini sama sekali di luar rencanaku.

Setahun lalu, kuharap dia tidak membaca tulisan tidak berguna ini-kalaupun dia baca kuharap dia tidak bermulut besar, ada kejadian yang mengubah pandanganku terhadapnya. Seperti sebuah pintu yang mengantarkanku menuju tempat baru. Itulah yang kurasakan. Dia menjadi istimewa tiba-tiba. Segala tindak-tanduknya serupa primadona bagiku. Perkataannya seperti dawai memabukkan. Aku tak percaya dengan perasaan sialan ini, awalnya.

Maka untuk memudahkanku dalam bercerita, kunamai dia dengan Aruzumaki dan kububuhi - kun di belakangnya. Sebagai informasi, aku adalah gadis yang sangat mengagumi budaya Negeri Sakura dan berdoa semoga bisa menginjakkan kaki di sana. Oleh karena itu, aku menambahkan - kun di akhir nama panggilannya. Aruzumaki-kun, baiklah... Itu terdengar sangat romantis bagiku. Ahahahah

Aruzumaki-kun adalah lelaki yang selalu ingin menjadi dominan di manapun berada. Ini bukan pendapat pribadiku, beberapa gadis lain pun berucap serupa. Karena kedominannya itu, dia sering dibicarakan di belakang oleh teman-teman gadisku. Mereka bicara seperti tidak ada hari esok, sangat bersemangat. Tapi pembicaraan mereka sungguh tidak adil, mereka hanya membicarakan keburukan Aruzumaki-kun tanpa mau menyelipkan sedikit saja kebaikan di dalamnya. Awalnya menyenangkan, mendengar seseorang yang kausukai dibicarakan teman-teman, tapi lama-kelamaan aku muak. Aku meninggalkan pembicaraan tidak berguna itu, akhirnya.

Kalau kau membaca ini, Aruzumaki-kun, kumohon maafkan aku yang terkadang suka membicarakan keburukanmu juga. Padahal aku jauh lebih buruk. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi. Hehe, daisuki... gomennasai...

Berbeda saat menyukai Cepot dulu, saat aku menyukai Aruzumaki-kun, aku merasa bisa lebih dewasa menyikapinya. Yah, meskipun salah seorang temanku mengatakan bahwa jatuh cintaku mudah ditebak.

Apa kau pernah merasakan kegugupanku, Aruzumaki-kun?