Selasa, 26 Mei 2020

Tentang Aruzumaki-kun

Lima bulan lagi, tepat 3 tahun aku menyukainya. Hal tersebut bermula saat aku meminjam buku miliknya dan setelah itu aku merasa terhubung. Kepribadiannya benar-benar tipeku. Sangat menyenangkan saat melihatnya, mendengarnya, membaca tulisannya. Dan yang paling penting, semenjak aku menyukainya, aku merasa lebih dewasa dan ingin memperbaiki diri.

Namun, serupa tokoh pria utama dalam novel, tentu banyak gadis yang menyukainya. Beberapa temanku, adik tingkatku pun melakukannya. Aku tahu mereka menyukai Aruzumaki-kun, hanya saja mereka tak tahu kalau aku juga merasakan hal yang sama. Itu karena ke-tsunderean-ku. Aku ini sangat baik dalam menyembunyikan perasaan. Tapi firasatku, Aruzumaki-kun tahu kalau aku menyukainya.

Sayangnya ada salah seorang temanku, dia cukup baik dalam membaca wajahku. Dia mengetahui bahwa aku menyukai Aruzumaki-kun. Dia bilang aku seorang penghianat. Dia bilang aku pencuri orang yang dia sukai. Padahal temanku itu tidak terlibat hubungan apapun dengan Aruzumaki-kun. Tapi mengapa dia tega mengatai aku begitu, ya? Aku bingung dan merasa sangat kesal.

Temanku yang lain selalu berusaha mencari perhatian. Dia sangat menjaga citra di hadapan Aruzumaki-kun. Sampai-sampai status di media sosialnya pun mesti meminta pendapat dariku. Katanya: kalau aku membuat status begini, akan kelihatan buruk tidak ya di mata Aruzumaki-kun? 

Hah! Kekesalanku bertambah. 

Kenapa harus sibuk menjaga citra, sih?! Padahal di mataku, temanku itu sudah sangat baik dan cerdas. Aku saja khawatir dengan kecerdasannya itu akan membuat Aruzumaki-kun menyukainya. Tapi kenapa dia tidak percaya diri???!!  

Seringkali otak kecilku tak mengerti dengan urusan orang dewasa yang selalu ingin tampak baik dan sempurna.

Otak kecilku hanya tahu bahwa pemiliknya harus bahagia, dan dia sekuat tenaga mencari caranya. 

Tentu saja berpura-pura terlihat baik dan sempurna di depan orang lain bukan salah satunya. 

:) 



Kamis, 21 Mei 2020

Dark Me

Melihat orang lain dengan segala pencapaiannya, aku merasa sangat tertinggal. Maka aku memutuskan untuk mempersempit pertemanan. Jujur saja, aku minder. Tingkat keminderanku ini sudah berada dalam batas maksimal. Aku tidak tahu bagaimana  menguranginya. Aku sungguh merasa kesulitan tapi tak tahu harus berbuat apa.

Di usia hampir 23, temanku... siapa temanku? Apa aku sama sekali tak memilikinya? Di mana mereka? Akankah mereka mengetahuiku yang 'sekarat' ini?

Rasanya, aku ingin punya satu orang saja yang benar-benar mencintaiku, memahamiku, dan akupun akan melakukan hal serupa padanya. Tidak mengapa jika itu satu orang. Aku merasa sangat bersyukur dan terberkati.

Pertemanan tidak cocok untukku. Aku tidak romantis. Kata-kataku cenderung kasar. Aku juga apatis dan tidak mau ikut campur. Dinding privasiku sangat tinggi. Masa laluku sangat gelap dan dalam. Hal-hal itu yang membuat pertemanan terdengar menakutkan. 

Aku iri melihat orang-orang yang mempunyai banyak teman. Banyak relasi. Itu sangat berguna untuk masa depan dan karir. Mereka akan melancong bersama. Berfoto bersama. Saling memberi hadiah. Saling menyatakan perasaan sayang satu sama lain. Menginap di rumah satu sama lain. Memberi kejutan ulang tahun. 

Ah... Berbicara kejutan ulang tahun... Aku belum pernah mendapatkannya. Dilempar telur, dibaluri terigu, dibuatkan skenario yang berakhir bahagia. Aku belum tahu rasanya. Bukankah itu sangat menyedihkan? 

Orang-orang mungkin muak padaku. Aku pun muak dengan diriku sendiri. Tiada yang bisa kubanggakan. Aku terlalu tidak berguna. Mengapa bisa ada manusia seperti aku? Mengurangi jumlah oksigen dan makanan saja. 

Selasa, 19 Mei 2020

Speechless

Baru saja, aku iseng mencari akun media sosial Mbak Berbibir Ombre (perempuan yang pertama kali kukenal -selain kepsek dan bapak yayasan- saat aku melamar kerja di salah satu sekolah dasar swasta). Pertama, aku mencarinya di facebook. Tidak ada informasi yang kutemukan, karena facebooknya dalam mode privasi. Kemudian, aku mencari usernamenya di instagram, dan... ketemu. Di akun tersebut, Mbak Berbibir Ombre memiliki follower yang lumayan, sekitar 500-an. Ah, sangat jauh dengan punyaku. Haha. Instagramnya tidak di privasi, jadi aku bisa bebas menguntitnya. Haha

Ada belasan postingan. Kebanyakan foto-foto saat dia jalan-jalan. Ada juga foto kutipan bijak dari 'orang' luar negeri (?) yang agak asing buatku. Dalam hati, aku tidak menyangka Mbak Berbibir Ombre mengenal orang-orang itu? Ataukah dia gemar membaca buku? Karena sepengetahuanku, dia sangat-sangat pendiam ketika bekerja. Hampir tidak bicara kalau tidak dipancing lebih dulu. Aku mengira dia sangat cupu.

Namun, bukan itu yang jadi titik masalahnya. Aku menemukan 5 video (kalau tidak salah ingat) dengan backround hitam. Saat kuputar, itu adalah suara orang bernyanyi dengan iringan gitar. Awalnya, aku sama sekali tidak menyangka kalau itu suara Mbak Berbibir Ombre, karena menurutku tidak mungkin. (aku tampaknya memang terlalu cepat menilai orang lain). Tapi, setelah kudengar baik-baik video itu. Aku terkejut. Rambut-rambut halus di tanganku seketika berdiri (baik, itu berlebihan). Dan aku merasa jahat sekali padanya.

Mbak Berbibir Ombre memiliki suara yang bagus walau dibeberapa tempat terdapat fals. Dia juga (sepertinya) bisa memainkan gitar. CELAKA DUA BELAS!

Bukan itu saja. Dia juga melafalkan lagu bahasa asing (Inggris) dengan sangat sangat baik.

ADA APA SEBENARNYA?!
MENGAPA AKU TIDAK PERNAH MELIHATNYA MELAKUKAN ITU DI SEKOLAH?!
AKU KAN JUGA INGIN BERNYANYI DENFANNYA!!!


Setelah ini, aku akan lebih.. tidak. Sangat sangat sangat sangaaaaaat berhati-hati dalam menilai orang lain.