Minggu, 29 Desember 2019
Aku sedang suka korea
Sabtu, 15 Juni 2019
Mimpi-mimpiKu
Suatu waktu, ketika aku sedang mandi, aku terpikirkan sesuatu. Bahwa kelak jika aku menikah, aku ingin minta dibelikan barang-barang tertentu. Seperti teleskop, kamera (entah digital, lsr, apapun yang penting kamera), otopet (entah bagaimana tulisannya), sepeda, dan 2 tiket kereta/bulan. Teleskop akan kami gunakan untuk melihat keagungan Allah di luar bumi. Kami akan melihat bintang, bulan, benda-benda langit lain, juga galaksi yang ada. Kemudian, setelah kami puas (jangan terlalu lama berada di tangan kami, takut rusak), kami akan menghibahkannya pada sekolah ataupun agenda-agenda dakwah yang membutuhkan sarana 'rekreasi(???)' gratis. Berharap itu akan jadi amal jariyah kami. Begitupula benda lainnya, seperti kamera, otopet, dan sepeda, setelah puas kami gunakan (jangan terlalu lama berada di tangan kami), kami juga akan menghibahkannya pada yang membutuhkan. Kecuali 2 tiket kereta/bulan, itu tidak kami hibahkan. Sebab akan kami gunakan untuk jalan-jalan dan mentafakkuri bumi. Ah, mungkin tidak mesti tiket kereta, bisa juga tiket bus, kapal laut, pesawat, tergantung bumi mana yg kami pilih untuk ditafakkuri. Aku tidak akan membebani suami kelak. Itu hanya rencanaku. Kalau dia keberatan, tiada yang lebih kutaati kecuali perintahnya. Tapi jikalau dia mengiyakan, akupun membebaskan dia untuk mencicilnya. Sebab aku tahu betul semua benda itu tidak murah. Jika diizinkan pula, aku ingin membantu keuangannya dengan berniaga. Aku menyukai hal-hal imut dan lucu (meskipun tidak cocok denganku), maka aku akan menjual itu.
Siapapun yang membaca ini, tolong aamiinkan ya.. Arigatou...
Sabtu, 08 Juni 2019
Ingin Mahir Baca Puisi
Beberapa waktu lalu, aku menonton rekam jejak perpuisian Rendra di sebuah acara stasiun tv swasta yang diposting ke youtube. Aku langsung terhenyak. Dan betapa selama ini aku merasa sangat sia-sia terhadap puisi-puisi. Mereka kubiarkan begitu saja, tidak didistribusikan (??). Padahal, dahulu Rendra berpuisi untuk melawan. Kemudian aku menghubungi 3 temanku yang kulihat punya potensi membaca puisi. Mereka menyetujui ajakanku. Akupun membuat grup untuk kami berempat. Tapi kulihat ketika di grup mereka tidak bersemangat. Padahal di awal mereka suka rela melakukannya. Aku merasa rendah diri. Aku tahu siapa mereka dan bagaimana kapasitasnya. Dan aku bukan siapa-siapa. Tidak pernah punya andil apa-apa. Di pikiranku, banyak sekali pikiran buruk terhadap mereka. Mungkin saja mereka sebenarnya malas dengan ajakanku, sekadar untuk berbaik hati.
Kalau aku bisa baca puisi sendiri, rasanya aku pun tidak mau merepotkan mereka. Sedih :'(
Jumat, 07 Juni 2019
Dia yang Memulai Dia yang Menghilang
Sebenernya pengen ngiklashin. Tapi kalau liat kelakuannya tuh dongkol. Astaghfirullah.. Padahal kasarnya mah dia yg ada salah. Padahal dia orang ngerti lho, tapi kok gitu banget ya. Urusannya mungkin gak seberapa, tapi sakit hatinya itu masih kerasa. Ya Allah.. Hamba yakin pembalasanmu jauh lebih pedih.
Rabu, 05 Juni 2019
Bukan Orang Terkenal
Taqobballahu minna wa minkum..
Padahal hari ini hari raya Idul Fitri, tapi udah mau cuap-cuap aja.
Habis aku kesel. Sama beberapa grup yang isinya orang-orang famous. Yang kemunculan lelakinya selalu dinanti. Yang cewek buriq macem aku, selalu gak dianggep
Kesel gak sih? Walaupun gak secara gamblang bilang begitu, tapi perilaku (?) mereka bilang begitu (?). Kalau grup lagi rame, isinya orang-orang penting dan tenar dan berwawasan dan memiliki sumbangsih yang luar biasa, terus aku muncul, udah deh kelar. Langsung sepi kek kuburan. Seolah-olah aku ini gak berhak dijawab ucapannya kalau ngomong di grup. Sekali dua kali ma gak papa. Aku juga tau diri. Tapi lama-lama kesel. Marah lho saia.
Se-nggak-kompetennya gue, gue juga manusia punya hati. Sombong amat dah lu pada. Di dunia udah pinter banget mengotak-kotakan manusia. Allah aja gak gitu. Cuma taqwa yang dilihat.
Hal itu sih salah satu alesan kenapa lingkup pertemanan gua sempit dan itu-itu aja. Bodo amat lah. Temenan sama orang tenar juga gak ngehasilin apa-apa. Yang ada gua minder. Kayaknya emang gua gak cocok ikut organisasi. Udah diem aja di rumah, punya dunia sendiri.
Bye maksimal!!!!
Sabtu, 27 April 2019
Merasa Bersalah dan Kosong
Astagfirullah.. Ini nih, biang keladinya. Berminggu-minggu gak produktif, mager aduhai, senengnya goleran di kasur sampe buluk, males bersosialisasi, dan yang paling pentingnya: males ibadah. Astaghfirullahaladzim.. Gua udah sia-siain waktu padahal seminggu lagi masuk bulan suci Ramadhan. Astagfirullah.. Gua malah sibuk karokean di smule. Sibuk stalking oppa-oppa. Sibuk mencari pembenaran atas kesalahan. Astagfirullah, tobat wahai guaaaa jangan mau tertipu bujuk rayu syaiton..
Semoga Allah masih memberi kesempatan gua utk bertemu bulan Ramadhan dan memperbaiki diri. Juga bisa istiqomah gak belang bentong kek gini lagi. Aamiin.
Di masa perenungan (?) tadi gua memflashback hal-hal apa si yg bikin gua merasa bersalah dan kosong. Ternyata, gua udah bebal sama nasihat. Gua marah ketika ada orang yg nasihatin gua, padahal itu karena mereka sayang. Gua pun sibuk mencari pembenaran atas hal yg udah gua lakuin. Gua mangkir dari agenda dakwah, gua males ngerjain skripsi dan lebih memilih buang-buang waktu stalking hal-hal yg gak guna. Gua menganggap semua orang berpikiran picik dan gak kayak gua yg terbuka. Padahal ma gua yang kebablasan. Gua liberal, anjiiirrr. Astagfirullah..
Jumat, 26 April 2019
Korea yang Menyebalkan
Gua benci kenapa si gua bisa suka korea? Lebih spesifik idolnya ya. Yha, budaya sama bahasanya gua juga suka si. Cuma gua lebih seneng ke idolnya. Karena mereka ganteng. Titik.
Gaada hal lebih masuk akal lagi selain karena mereka ganteng, dan mulus anjir. Mukanya kek gaada pori-pori dan badannya bening banget. Wajar ga si gua yang notabennya sebagai perempuan normal seneng liat begituan? Oppa-oppa maksudnya.
Apa ya. Gua anggep mereka kayak karya seni gitu. Indah dan memanjakan mata gua yg sering suram dan burem gegara minus yang makin nambah. Tapi temen-temen gua, yang pada alim itu, gak paham.
Mereka orang baik. Gua tau banget. Dan gua bersyukur bisa temenan sama orang sebaik mereka. Sering nasihatin gua. Tapi seringkali mereka nyakitin hati gua. Ehehehe. Emang hati yang rusak tuh disenggol dikit geh langsung luka.
Harusnya gua bersyukur, Allah masih ngasih kesempatan buat gua bisa bertemen sama mereka. Orang-orang shalih itu, gua ga raguin lagi keistiqomahannya di jalan dakwah.
Ya Allah.. Bantuin hamba buat bisa sebaik mereka. Hamba juga gak pengen ngefans sama oppa-oppa karena mereka gak pernah shalat dan gak disunat :(
Pokoknya. Jadi fans oppa-oppa tu nyebelin abis. Dan bikin sering sakit hati. Sakit hati kalo denger kabar bias dating dan sakit hati kalau udah dinyinyirin temen sendiri.
Sekian.
Senin, 04 Maret 2019
Dia Kunamai Aruzumaki-kun
Akhirnya aku menyadari bahwa menyukainya hanyalah kesia-siaan yang sengaja kuperlama. Rasanya aku menyesal telah berbuat hal memalukan selama suka padanya. Mau ditaruh dimana wajah pas-pasanku ini.
Seperti yang sudah kuberitai, setahun ke belakang hatiku berpaling (?) pada sosok yang awalnya tak pernah kupertimbangkan. Perasaan itu tiba-tiba mengejutkanku yang dulu begitu percaya diri tidak akan jatuh cinta lagi. Haha. Sosok itu adalah teman kuliahku. Awalnya tidak ada yang menarik darinya. Aku tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Ini sama sekali di luar rencanaku.
Setahun lalu, kuharap dia tidak membaca tulisan tidak berguna ini-kalaupun dia baca kuharap dia tidak bermulut besar, ada kejadian yang mengubah pandanganku terhadapnya. Seperti sebuah pintu yang mengantarkanku menuju tempat baru. Itulah yang kurasakan. Dia menjadi istimewa tiba-tiba. Segala tindak-tanduknya serupa primadona bagiku. Perkataannya seperti dawai memabukkan. Aku tak percaya dengan perasaan sialan ini, awalnya.
Maka untuk memudahkanku dalam bercerita, kunamai dia dengan Aruzumaki dan kububuhi - kun di belakangnya. Sebagai informasi, aku adalah gadis yang sangat mengagumi budaya Negeri Sakura dan berdoa semoga bisa menginjakkan kaki di sana. Oleh karena itu, aku menambahkan - kun di akhir nama panggilannya. Aruzumaki-kun, baiklah... Itu terdengar sangat romantis bagiku. Ahahahah
Aruzumaki-kun adalah lelaki yang selalu ingin menjadi dominan di manapun berada. Ini bukan pendapat pribadiku, beberapa gadis lain pun berucap serupa. Karena kedominannya itu, dia sering dibicarakan di belakang oleh teman-teman gadisku. Mereka bicara seperti tidak ada hari esok, sangat bersemangat. Tapi pembicaraan mereka sungguh tidak adil, mereka hanya membicarakan keburukan Aruzumaki-kun tanpa mau menyelipkan sedikit saja kebaikan di dalamnya. Awalnya menyenangkan, mendengar seseorang yang kausukai dibicarakan teman-teman, tapi lama-kelamaan aku muak. Aku meninggalkan pembicaraan tidak berguna itu, akhirnya.
Kalau kau membaca ini, Aruzumaki-kun, kumohon maafkan aku yang terkadang suka membicarakan keburukanmu juga. Padahal aku jauh lebih buruk. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi. Hehe, daisuki... gomennasai...
Berbeda saat menyukai Cepot dulu, saat aku menyukai Aruzumaki-kun, aku merasa bisa lebih dewasa menyikapinya. Yah, meskipun salah seorang temanku mengatakan bahwa jatuh cintaku mudah ditebak.
Apa kau pernah merasakan kegugupanku, Aruzumaki-kun?